Jumat, 05 Agustus 2011

Peran Serta Orang-Orang 'Ajam dalam Perjuangan Islam

Segala puji milik Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya, dan kami berlindung dari kejelekan jiwa kami dan kejelekan amal kami, barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa disesatkan maka dia tidak akan memperoleh petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya salawat dan salam senantiasa tercurahkan untuknya, amma ba’du:
Apabila kita menilik sejarah Islam dan merenunginya akan nampak jelas bagi kita  kesungguhan dan pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang muslim ‘Ajam (non Arab) semenjak munculnya fajar Islam sampai hari ini. Banyak sekali contoh-contoh yang menggambarkan keseriusan orang-orang ‘Ajam, kesabaran, dan pengorbanan mereka terhadap Islam, sehingga mereka pun menjadi tauladan bagi orang-orang muslim Arab dan menjadi tempat rujukan mereka.
Sesungguhnya peran yang penting dalam Islam tidak hanya didominasi oleh orang-orang Arab, bahkan banyak sekali contoh yang menunjukan bahwasanya orang-orang Islam dari kalangan ‘Ajam pun banyak berperan penting didalamnya.
Saya ingin memeberikan beberapa contoh dalam hal ini agar kita tahu betapa besarnya peran orang-orang muslim dari kalangan ‘Ajam bagi agama Islam ini sepanjang zaman.
Kita mulai dari zaman sahabat generasi pertama, yaitu kiasah seoarng sahabat yang mulia Salman al-Fârisî radiyallâhu’anhu sang pencari kebenaran”.
Dialah seorang sahabat yang telah berkelana dibumi bagian barat dan timur dalam rangka mencari nabi yang hak nabi Muhammad shallallâhu’alaihi wasallam.
Salman berasal dari negeri Persia[1] sebelah timur Jazirah Arab. Sunguh sahabat ini memiliki kisah yang sangat menakjubkan dalam kesungguhannya mencari kebenaran, yang mana hal ini menunjukan akan keseriusan dan kesungguhan seorang ‘Ajam di dalam mencari kebenaran walaupun melalui berbagai macam kesulitan dan aral rintangan.
Salman adalah seorang yang berasal dari kota Ashfahân[2] sedangkan ayahnya adalah pembesar dan orang yang ditokohkan dikalangan masyarakatnya. Keluarganya pun terhitung sebagai keluarga bangsawan.
Salman dan keluarganya dahulu beragama Majusi[3], bahkan Salman-lah yang bertugas sebagai penjaga apinya agar tetap menyala.
Suatu ketika bapaknya mengembankan tugas penting kepadanya sehingga ia harus keluar untuk melaksanakan tugas tersebut. Ketika beliau melakukan perjalanan beliau melewati gereja Nasrani dan mendengar suara orang yang sedang salat didalamnya sembari memperhatikan salat tersebut dengan seksama, maka Salman merasa takjub dengan ibadah yang mereka lakukan (yang mana menurut pandangannya ini lebih baik dari agamanya, kemudian Salman bertanya kepada mereka, “Dari manakah asal agama ini?” Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”
Maka setelah Salman pulang kerumah ia menceritakan hal ini kepada ayahnya, maka ayahnya pun merasa kaget dan khawatir kalau anaknya keluar dari agamanya (Majusi), sehingga Salman pun dikurung dirumahnya dan diikat kakinya.
Akan tetapi Salman mampu lolos dari kurungan tersebut, maka tatkala salman bertemu dengan sekelompok rombongan yang bertolak dari Ashfahân menuju Syam dan ikut bersama mereka dengan sembunyi-sembunyi. Dari sinilah sejarah mencatat suatu pengembaraan yang luar biasa dalam rangka mencari suatu kebenaran.
Sungguh suatu perjalanan yang dipenuhi dengan kesulitan dan kesusahan, namun itu semua rela ditempuh dalam rangka mencari kebenaran. Inilah gambaran dan keteguhan dari orang ‘Ajam dalam  mencari kebenaran.
Maka tatkala sampai dinegeri Syam Salman bertanya tentang orang yang paling alim tentang agama Nasrani di negeri tersebut, maka ditunjukanlah beliau kepada salah seorang Uskup gereja, salman pun mengikutinya dan berkhidmat kepadanya agar bisa belajar agama darinya. Akan tetapi ternyata uskup tersebut adalah seorang yangh jelek yang mana ia memerintahkan orang untuk bersedekah namun ia sendiri yang memakan sedakahnya, maka Salman pun membencinya. Maka tatkala uskup ini mati digantilah uskup lainnya yang mana penggantinya adalah orang yang baik maka Salman pun menyertainya dan selalu bersamanya, bahkan Salman mnganggap bahwa ia adalah orang yang paling zuhud. Maka tatkala uskup tersebut akan meninggal Salman pun berkata kepadanya, “Siapakah yang engkau wasiatkan untukku (dalam mempelajari agama Nasrani) sepeninggalmu?” Maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku aku tidak mengetahui seorang pun melainkan si Fulan yang ada di Mausil [4] yang dia tidak merubah agamanya.”
Maka tatkala Uskup tersebut meninggal Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan pengembaraannya yang baru dalam rangka mencari kebenaran.
Maka tatkala Salman sampai di Mausil bertemulah ia dengan uskup tersebut, kemudian Salman pun mendampinginya dan ia mendapati uskup tersebut adalah uskup yang sangat mulia.
Namun tidak lama kemudian uskup tersebut mengalami sakaratul maut, maka Salman pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau wasiatkan untukku (dalam mempelajari agama Nasrani) sepeninggalmu?” Maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku aku tidak mengetahui satu orang pun yang seperti apa yang kita anut kecuali si fulan yang ada di Nâshibîn[5] maka pergilah kepadanya.”
Maka Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pengembaraan yang ketiga kalinya dalam mencari kebenaran hingga sampailah di kota Nâshibîn. Namun tidak lama kemudian uskup tersebut meninggal dunia. Sebelum meninggalnya uskup tersebut Salmanpun bertanya kepadanya seperti pertanyaan kepada uskup-uskup sebelumnya. Maka uskup tersebut mengarahkannya untuk menemui uskup lainnya yang ada di kota ‘Amûriya.[6]
Maka Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pengembaraannya yang keempat dalam rangka mencari kebenaran. Kemudian bertemulah Salman dengan uskup tersebut dan senantiasa mendampinginya, namun tidak lama kemudian uskup tersebut pun meninggal dunia. Menjelang meninggalnya uskup tersebut  Salman pun bertanya kepadanya dengan pertanyaan seperti yang ditanyakan kepada uskup-uskup sebelumnya, maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku demi Allah saya tidak mengetahui ada seorangpun yang beragama semisal dengan kita, sesungguhnya telah dekat zamannya akan keluar seorang nabi dari Arab yang akan membawa agama nabi Ibrahim ‘alaihissalâm yang lurus, kemudian ia berhijrah ke suatu tempat yang banyak pohon kurmanya, (nabi tersebut) memiliki beberapa tanda yang nampak…
  • Tidak mau memakan shadaqah.
  • Ia mau memakan hadiah .
  • Diantara kedua lengannya ada cincin kenabian.
Apabila engkau mampu untuk bertemu dengannya maka lakukanlah…   Tentulah hal itu mampu dilakukan oleh Salman yang telah berkali-kali melakukan  pengembaraan di berbagai penjuru dunia.
Kemudian Salman pun berjumpa dengan sekelompok pedagang dari Arab yang berada di ‘Amûria dan hendak pulang kenegerinya, maka Salman pun ikut bersama mereka, akan tetapi Salman dikhianati sehingga kemudian ia pun dijual ke seorang Yahudi dan dijadikan sebagai budak, disinilah Salman kembali mengalami musibah dan penderitaan lainnya dalam rangka mencari kebenaran, padahal dulunya ia adalah seorang bangsawan dan terkemuka dikalangan kaumnya.
Kemudian orang Yahudi tersebut menjualnya ke anak pamannya yang hidup dikota Yatsrib[7] maka berpindahlah Salman kekota tersebut dan disana ia melihat pohon kurma yang sangat banyak, maka Salman pun tahu bahwa itulah kota yang dimaksudkan oleh uskup dari ‘Amûria kepadanya yaitu tempat hijrahnya nabi tersebut.
Kemudian tidak lama kemudian nabi Muhammad shallallâhu’alaihi wasallam pun hijrah ke Madinah, dan sampailah berita itu kepada Salman yang nabi tersebut hijrah dari Makkah menuju Madinah dan mengajak untuk menyembah Allah semata. Maka bergetarlah badan Salman ketika mendengar hal tersebut.
Maka Salman pun hendak memastikan tiga tanda kenabian yang dikabarkan oleh uskup ‘Amuria kepadanya. Yaitu akan keluar seorang nabi dari negeri Arab dan memiliki tiga tanda:
  1. Ia tidak mau memakan sadaqah .
  2. Mau memakan hadiah.
  3. Diantara kedua lengannya ada cincin kenabian.
Maka diwaktu sore hari Salman pun mengambil korma  kemudian ingin disedekahkan kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang mana ketika itu beliau ada di Quba, maka Salman pun berkata kepada beliau, “Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sholeh datang bersama saudara-saudaramu dari negeri yang jauh, oeh karena itu aku hendak menyedekahkan korma ini untuk kalian,” Maka nabi shallallâhu’alaihi wasallam pun bersabda kepada para sahabatnya, “Makanlah.” Namun beliau menahan diri dan tidak memakannya, maka Salman pun berbicara dalam hatinya, “Inilah tanda yang pertama.” Artinya telah terbukti tanda yang pertama. Yaitu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak memakan sadaqah.
Kemudian Salman pergi dan mengumpulkan korma untuk dihadiahkan kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang beliau telah berpindah dari Quba’ dan tinggal di Madinah. Kemudian Salman berkata kepada beliau shallallâhu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau tidak memakan shadaqah maka terimalah ini (korma) sebagai hadiah bagimu.. maka Rasulullah shallallâhu’alaihi wasallam pun memakannya dan memerintahkan para sahabatnya untuk memakannya.” Maka kemudian Salman pun berucap didalam hatinya, “Inilah yang kedua.”  Artinya telah nampak tanda yang kedua yaitu Nabi shallallahu’alaihi wasallam mau memakan hadiah.
Kemudian Salman kembali datang kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang mana beliau ketika itu ada di Baqî’ Gharqad [8] yang mana Rasulullah ketika itu sedang menabur tanah di kuburan salah seorang sahabatnya yang meninggal, maka Salman pun melihat nabi sallallâhu’alaihi wasallam dalam keadaan duduk dengan mengenakan pakaian tebal. Salman pun mengucapkan salam kepadanya dan berusaha untuk melihat cincin kenabian di punggungnya seperti yang disifatkan oleh uskup dari ‘Amûria dahulu, maka nabi shallallâhu’alaihi wasallam mengetahui apa yang diinginkan Salman, maka nabi pun melepas selendang yang ada di punggungnya kemudian Salman pun melihat cincin kenabian di antara kedua lengannya maka Salman pun mencium Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan menangis. Sungguh ia telah menemukan hakekat kebenaran yang selama ini dia cari dan ia berkeliling ke bumi di bagian barat maupun timur karenanya.
Maka Nabi shallallâhu’alaihi wasallam pun merasa takjub dengan apa yang dilakukan oleh Salman kemudian beliau bertanya kepadanya, “Perihal apa yang ada padamu?” Maka Salman pun mengkisahkan pengembaraannya yang menakjubkan dalam rangka mencari kebenaran semenjak dari Ashfahan sampai detik itu. Maka Nabi shalallahu’alaihi wasallam pun merasa takjub dengan hal tersebut kemudian beliau meminta agar Salman mengkisahkan hal tersebut kepada para sahabatnya radiyallâhu’anhum dan para sahabat pun merasa takjub dan gembira dengan hal tersebut.[9]
Lihatlah bagaimana Salman tatkala mengkisahkan riwayat hidupnya dihadapan para sahabat hal itu adalah sebagai contoh dan tauladan bagi orang-orang Arab dan sebagai bentuk pengajaran bagi mereka.
Demikian juga di sana masih ada orang ‘Ajam lainnya yang menjadi contoh dan tauladan bagi kita, dialah Suhaib bin Sinân ar-Rûmî radiyallâhu’anhu.
Beliau hidup di lingkungan yang dipenuhi dengan maksiat, dan perbuatan-perbuatan yang keji, meskipun demikian hal itu tidaklah menghalanginya untuk melakukan suatu perbuatan yang mulia dan pengorbanan yang besar terhadap agama ini.
Suhaib berasal dari negeri Roma [10] hanya beliau adalah orang yang selamat fitrahnya di tengah masayarakatnya yang dipenuhi dengan berbagai macam perbuatan maksiat. Suhaib berkata, “Masyarakat yang seperti ini kondisinya lebih layak untuk mendapat musibah banjir besar”.
Suatu ketika ia mendengar tukang ramal dari kalangan Nasrani mengatakan, “Telah dekat masa kemunculan seorang nabi yang berasal dari Makkah di Jazirah Arab yang mana ia membenarkan risalah yang dibawa oleh nabi ‘Isa ‘alaihis sallâm serta misinya mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya yang terang”. Mendengar hal tersebut maka Suhaib pun merasa rindu bertemu dengan nabi tersebut dan meninggalkan negerinya yang penuh dengan kemungkaran.
Oleh karena itu sebagai renungan bagi kita bersama… betapapun banyaknya kemungkaran yang ada di negeri anda yang mana akhirnya anda sematalah yang berpegang dengan kebenaran…apabila anda memang memiliki niat yang ikhlas untuk menolong agama ini niscaya Allah akan menolong anda..
Kembali kepada kisah Suhaib..
Tatkala Suhaib telah meninggalkan negerinya yang penuh dengan kemungkaran dan sampai di kota Makkah, beliau bekerja sebagai pedagang hingga memperoleh kesuksesan dan keuntungan yang banyak dalam waktu yang singkat. Namun itu bukanlah tujuan utamanya karena tujuan utamanya datang ke Arab adalah untuk mencari kebenaran.
Pada suatu ketika sampailah kabar kepadanya munculnya seoarang nabi dari Makkah yang bernama Muhammad bin Abdillâh sallallâhu’alaihi wasallam yang mengajak untuk beriman kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, serta mengajak umat manusia untuk berbuat keadilan dan kebaikan dan melarang mereka dari kejelekan dan kemungkaran. Maka telah terbuktilah selama ini tentang apa yang dicari oleh Suhaib yaitu keluarnya nabi yang membawa cahaya keimanan dan tauhid.
Semenjak itulah Suhaib senantiasa memberikan sumbangsihnya kepada agama ini dan senantiasa bersabar dengan gangguan orang-orang kafir Quraisy. Lihatlah apa yang dilakukan oleh sahabat ‘Ajam ini sesuatu yang keluar dari kebanyakan logika manusia, keluar dari negerinya sendiri yang penuh dengan kenikmatan kemudian pergi ke negeri Makkah untuk bersyahadat walaupun gangguan dan intimidasi yang didapat?!
Dan hal menakjubkan lainnya dari sahabat yang berasal dari negeri non Arab ini, beliau adalah termasuk diantara sederetan para sahabat yang pertama kali masuk Islam, di saat banyak dari orang-orang Arab memeranginya.
Maka tatkala Rasulullah sallallâhu’alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah,  Suhaib ingin mememani Nabi sallallâhu’alaihi wasallam dan Abu Bakr radiyallâhu’anhu dalam perjalanan mereka, namun orang-orang kafir Quraisy mengawasi gelagat tersebut dan mengutus beberapa orang untuk menghalangi keluarnya Suhaib.
Sehingga Suhaib pun berfikir bagaimana caranya agar dapat mengelabui mereka sehingga bisa keluar dari Makkah untuk Hijrah ke Madinah.
Pada suatu malam yamg dingin ia keluar dari rumahnya menuju tempat buang hajat sementara orang-orang kafir Quraisy terus memperhatikannya, namun tidak lama kemudian Suhaib pun kembali ke rumahnya, kemudian ia keluar lagi dari rumahnya menuju tempat buang hajat namun tidak lama kemudian ia kembali lagi kerumahnya dan ini dilakukan berkali-kali, sehingga orang-orang kafir Quraisy yang mengawasinya mengira bahwasanya Suhaib sakit perut. Maka tidak lama kemudian orang-orang yang mengawasinya pun tertidur karena mengira dalam kondisi Suhaib yang seperti itu dia tidak akan mungkin bisa lari. Maka setelah para penjaga tadi tertidur Suhaib pun lolos dari intaian mereka dan berhasil keluar untuk hijrah ke Madinah. Akan tetapi Suhaib mengalami ujian lainnya yang mana para pengintai tadi mengetahui kepergian Suhaib kemudian mereka pun mengejarnya sehingga ia tertangkap.
Setelah itu orang-orang yang menangkapnya menjelaskan perihal mereka menghalangi keluarnya Suhaib dari Makkah dengan mengatakan, “Demi Allah kami tidak akan membiarkanmu keluar begitu saja dengan membawa harta padahal dahulunya engkau adalah seorang yang miskin dan tidak memiliki apa pun kemudian setelah itu engkau menjadi kaya raya.”
Maka jelaslah bahwa selama ini yang diincar oleh mereka dari Suhaib adalah harta, lalu bagaimanakah sikap Suhaib dalam melayani keinginan mereka terhadap hartanya?
Suhaib pun mengatakan, “Bagaimana menurut kalian kalau aku tinggalkan seluruh hartaku apakah kalian akan membiarkan aku pergi?” Mereka menjawab, “Iya.” Maka Suhaib pun menunjukinya tempat perbendaharaan hartanya di rumahnya yang ada di Makkah, sehingga Suhaib pun bisa pergi dengan leluasa untuk hijrah ke Madinah walaupun dengan resiko meninggalkan hartanya yang ia kumpulkan dengan  susah payah sepanjang hidupnya tanpa merasa sayang sedikit pun.
Maka tatkala Suhaib sampai di Madinah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melihatnya dari jauh yang mana Jibril telah memberitahukan kepada beliau tentang kisah Suhaib, maka tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihatnya beliau bersabda,

رَبِحَ الْبَيعُ أَبَا يَحْيَى رَبِحَ الْبَيعُ أَبَا يَحْيَى
“Amat beruntunglah perniagaan Abu Yahya (suhaib), dan amat beruntunglah perniagaan Abu Yahya.”
Apakah keberuntungan yang di peroleh oleh Suhaib sementara hartanya telah di ambil seluruhnya? Keberuntungan itu tidak lain adalah keberuntungan akherat berupa sorga, meskipun ia di dunia telah rugi dengan meninggalkan harta dan keluarganya. Sungguh Allah Rabb semesta alam lah yang memberikan rekomendasi baginya berupa keberuntungan di akherat, sehingga hal tersebut diabadiakan dalam sebuah ayat yang terus dibaca sampai hari kiamat, yaitu firman Allah,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغاءَ مَرْضاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَؤُفٌ بِالْعِبادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(Al-Baqarah:207)
Sungguh menakjubkan ayat ini turun berkaitan dengan sahabat yang ia bukan orang Arab, mudah-mudahan Allah senantiasa meridoi Suhaib ar-Rûmî dan dan mengumpulkan kita bersama di sorganya yang tinggi âmîn yâ Rabbal’âlamîn.[11]
Kemudian kita beralih kepada sahabat non Arab yang lainnya seorang sahabat yang sangat terkenal di kalangan orang-orang besar maupun kecil seorang sahabat yang memiliki pengorbanan yang besar terhadap agama ini, dialah Bilâl bin Rabâh radiyallâhu’anhu.
Hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita bahwa peran penting dalam agama ini yang dilakukan oleh para sahabat dari kalangan ‘Ajam tidak hanya dilakukan oleh sebagian orang saja atau dari sebagian negeri saja bahkan mereka berasal dari berbagai negeri. Perhatikanlah Salmân datang dari negeri Persia sebelah timur Jazirah Arab, Suhaib datang dari  Roma sebelah utara Jazirah Arab, dan Juga Bilâl yang datang dari negeri Habasyah yang sekarang ini lebih dikenal dengan Etiopia.
Sungguh sahabat Bilâl mengalami ujian yang luar biasa di awal-awal masa Islam walaupun begitu kerasnya siksaan yang mendera beliau namun beliau tetap mengucapkan “Ahad ahad” yang maknanya hanya Allah lah satu-satunya dzat yang berhak untuk diibadahi.
Diantara hal yang menunjukan keutamaan Bilâl bin Rabâh antara lain:
Dari Abdullah bin Mas’ûd berkata, “Ada tujuh orang yang pertama kali menampakkan keislamannya: Rasulullah shallallâhu’alaihi wasallam, Abu Bakr, ‘Ammâr bin Yâsir, ibunya Sumayyah, Suhaib, Bilâl, dan Miqdad.
Yang menjadi bahan renungan kita adalah diantara dua sahabat diatas yaitu Suhaib dan Bilal keduanya adalah orang non Arab yang mana keduanya dengan cepat menyambut seruan Islam.
Kemudian Ibnu Mas’ûd melanjutkan ucapannya, “Adapun Rasulullah maka dilindungi oleh pamannya Abu Thâlib, adapun Abu Bakr maka dilindungi oleh kaumnya, adapun yang selainnya maka mereka diberi pakaian dari besi kemudian di panaskan di terik matahari  sehingga karena terpaksa akhirnya menuruti keinginan orang-orang kafir tersebut (meskipun dalam hatinya tetap menyimpan keimanan), kecuali Bilal ia tetap teguh walaupun ia disiksa sampai diarak di hadapan anak-anak kecil ia tetap mengucapkan  “Ahad ahad”.
Perhatikanlah akan keteguhan sahabat yang satu ini ia tetap teguh meskipun dalam keadaan darurat dan dipaksa, yang mana para sahabat yang lainnya mengambil rukhshoh (keringanan) dengan berpura-pura kembali kepada kekufuran.
Namun perhatikanlah setelahnya yang mana Bilâl menjadi seorang yang mulia dan selalu dikenang oleh umat Islam yang mana Bilal mendapatkan penghargaan besar dari Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menjadi Muadzin yang mengumandangkan adzan untuk shalat lima waktu. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memerintahkannya untuk beradzan diatas Ka’bah ketika hari Fatkhu Makkah (pembukaan kota Makkah). Dan orang-orang Arab pun membelalakkan matanya kepada Bilal padahal sebelumnya Bilal adalah seorang budak yanmg tertindas.
Inilah beberapa gambaran tentang para sahabat yang mereka notabenenya orang-orang non Arab namun dengan keikhlasan dan keteguhan mereka Allah pun mengangkat derajat mereka didunia dan di akherat.

Kesungguhan Orang-orang ‘Ajam Dalam Ilmu Syar’i
Tidak hanya sebatas dalam keagamaan saja bahkan ada beberapa orang ‘Ajam yang memiliki peran sentral dalam ilmu syar’i dan penyebarannya setelah generasi para sahabat bahkan sampai masa kita sekarang.
○  Dalam Bidang Fiqih:
Kalau kita menilik sejarah fiqih dan para Fuqahâ’ (pakar dalam bidang Fiqih) kita akan dapati betapa banyaknya para Imam di dalam bidang Fiqih yang berasal dari negeri ‘Ajam, diantara yang paling masyhur adalah Imam Abu Hanifah an-Nu’man, imam madzhab hanafiyah yang sangat masyhur, yang mana berkata Imam Syafi’i tentang beliau,”Dalam permasalahan Fiqih kita semua menginduk kepada Abu Hanifah. Sungguh sejarahnya sangatlah harum dan terkenal, beliau bukan berasal dari negeri Arab akan tetapi berasal dari negeri Persia sebelah timur Jazirah Arab.
Demikian juga di belahan bumi bagian barat melahirkan seorang pakar Fiqih yang sangat terkenal dan terdepan di zamannya yaitu Ibnu Hazm al-Andalûsî, dari negeri Andalus.[12]
○  Dalam Bidang Hadits.
Apabila kita berbicara didalam bidang Hadits dan penghimpunannya kita dapati bahwasanya para ulama yang terdepan di dalam hal ini adalah orang-orang ‘Ajam. Kita banyak mendapati para ulama  yang menghimpun hadits-hadits shahîh dan menjaganya dari hadits-hadits dho’îf berasal dari negeri ‘Ajam. Diantara kitab Shahîh itu antara lain:
  1. Shahîh al-Bukhârî, yang ditulis oleh Imamnya ahli hadits Muhammad bin Isma’il al-Bukhârî dari Bukhârâ negeri ‘Ajam.
  2. Shahîh Muslim, yang ditulis oleh Imam Muslim dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.
  3. Shahîh Ibnu Hibbân, yang ditulis oleh Imam Ibnu Hibbân dari Bust negeri ‘Ajam.
  4. Shahîh Ibnu Khuzaimah, yang ditulis oleh Imam Ibnu Khuzaimah dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.
  5. Mustadrâk al-Hâkim, yang ditulis oleh Imam al-Hâkîm dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.
Bila kita menilik para penilis Kitab-kitab sunan empat yang Masyhur kita akan dapati bahwasanya mereka seluruhnya adalah orang-orang ‘Ajam. Diantara kitab-kitab Sunan tersebut antara lain:
  1. Sunan Abî Dawûd, yang ditulis oleh Imam Abû Dâwûd dari Sijistân negeri ‘Ajam.
  2. Sunan an-Nasâ’î, yang ditulis oleh Imam an-Nasâ’î dari Nasâ negeri ‘Ajam.
  3. Sunan at-Tirmidzî, yang ditulis oleh Imam at-Tirmidzî dari Tirmidz negeri ‘Ajam.
  4. Sunan Ibnu Mâjah, yang ditulis oleh Imam Ibnu Mâjah dari Qazwain negeri ‘Ajam.
Ringkasnya bahwa penulis al-Kutub as-Sittah (enam kitab referinsi utama dalam bidang hadits) seluruhnya adalah orang-orang non Arab.
○ Didalam Bidang Ilmu Al- Jarh Wat Ta’dîl.[13]
Apabila kita menilik para pakar dalam bidang al-Jarh Wat Ta’dîl ini kita dapati banyak diantara oreang-orang ‘Ajam yang memiliki peran besar dalam  hal tersebut, diantaranya: al-Imam Ibnu Abi Hâtim ar-Râzî dari negeri Roi negeri ‘Ajam beliau memiliki karya tulis yang berjudul “Al-Jarh Wat Ta’dîl” beliau menghimpun didalam kitabnya tersebut perkataan ayahnya Imam Abu Hâtim ar-Râzî dan Imam Abu Zur’ah ar-Râzî dan para ulama yang lainnya dalam permasalahan periwayatan hadits. Kitab ini terhitung sebagai referinsi utama dalam bidang ini.
○ Dalam Bidang Tafsir Al-Qur’ânul Karîm
Apabila kita menilik para pakar dalam bidang Tafsir maka kita dapati bahwasanya para ulama dari kalangan ‘Ajam memiliki peran besar dalam bidang ini. Ambil contoh Imam Ibnu Jarîr ath-Thabarî  beliau berasal dari negeri Thabaristân beliau memiliki sebuah karya tulis monumental dalam bidang Tafsir yang menghimpun didalamnya  perkataan para sahabat, dan para Tabi’in disertai dengan sanad nya.
Contoh lainnya adalah Imam al-Qurthubi berasal dari kordoba salah satu kota yang ada di negeri Andalus (spanyol) memiliki sebuah karya tulis dalam bidang Tafsir yang luar biasa yang berjudul “Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân.”

○ Dalam Bidang Ushul Fiqih.
Diantara para ulama dari kalangan ‘Ajam yang mahir dalam bidang ini adalah Imam asy-Syairâzî penulis kitab “Al-Luma’” berasal dari kota Syairâz negeri ‘Ajam.
Demikian pula Imam ar-Râzî memiliki sebuah karya tulis dalam bidang ini yang berjudul “al-Mahshûl” dan para ulama yang lainnya.
○ Dalam Bidang Bahasa Arab.
Sungguh merupakan hal yang sangat menakjubkan bahkan dalam bidang bahasa Arab pun orang-orang ‘Ajam banyak mendominasinya bahkan banyak sekali para Imam dalam bidang ini berasal dari orang-orang ‘Ajam.
Diantara sederetan Imam tersebut antara lain:
  • Sibawaih pakar dan imam dalam bidang Nahwu dan bahasa berasal dari negeri Persia.
  • Al-Fairûz Ābâdi penulis Kitab “Al-Qâmûs al-Muhîth” salah satu kamus paling utama dalam bahasa Arab beliau bukan dari negeri Arab.
Bahkan salah seorang sejarawan Islam ternama Imam Ibnu Khaldûn memberikan sebuah faedahnya yang sangat berharga setelah beliau melakukan penelitian dan penelusuran mendalam beliau menyimpulkan bahwa mayoritas ulama Islam banyak didominasi orang-orang ‘Ajam dari pada orang-orang Arab.
Kemudian saya bawakan disini sebuah kisah menjelaskan bahwa orang-orang ‘Ajam mendominasi dunia ini disebabkan mereka berilmu dan menjaga agama Allah ta’ala.
Dari az-Zuhrî rahimahullâh berkata, “Berkata kepadaku Abdul Malik bin Marwân (khalifah ketika itu), “Dari mana saja engkau?” Aku menjawab, “Dari Makkah”, dia berkata, “Siapakah yang engkau jadikan referinsi bagi penduduknya (dalam Ilmu Syar’i)”, aku menjawab,” ’Athâ’”,  dia bertanya, “Apakah dia orang Arab atau bukan?”, aku menjawab, “Bukan”, dia bertanya, “Kenapa engkau jadikan ia sebagai referensi?”, aku menjawab, “Karena keteguhannya dalam beragama dan banyaknya riwayat hadits yang dihafal, dia berkata, “Seorang yang teguh dalam beragama dan banyak menghafal riwayat hadits mereka lebih utama untuk dijadikan referensi”. Dia berkata, “siapakah yang engkau jadikan referensi bagi penduduk Yaman”? Aku menjawab, “Thâwûs”, dia berkata, “Apakah dia orang Arab atau bukan?” aku menjawab, “Bukan.” Dia bertanya kembali, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Syam”? aku menjawab, “Makhul”, dia berkata, “Apakah dia orang Arab atau bukan?” aku menjawab, “Bukan dia adalah seorang hamba sahaya yang dimerdekakan oleh wanita dari Hudzail”. Dia berkata lagi, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Jazirah”? aku menjawab, “Maimûn bin Mihrân ia bukan dari Arab”. Dia bertanya lagi, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Khurasan”? aku menjawab, “Adh-Dhahhâk bin Muzâhim dia bukan orang Arab, Dia berkata, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Bashrah”? aku menjawab, “Al-Hasan dia bukan orang Arab”. Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah yang engkau jadikan referensi bagi penduduk Kuffah?” aku menjawab, “Ibrahim an-Nakha’I”.Ia bertanya, “Apakah ia dari Arab atau bukan?” aku menjawab, “dari Arab”.  Abdul Malaik bin Marwan berkata, “Aduhai engkau benar-benar mengagetkanku, apakah orang-orang non Arab itu akan berkhutbah diatas minbar sementara orang-orang Arab duduk mendengarkan dibawah mereka? Maka aku menjawab, “Wahai amirul mu’minin sesungguhnya ini adalah agama barang siapa yang mampu menjaganya ia akan menjadi tinggi, dan barangsiapa yang melalaikannya ia akan menjadi rendah.”
Bagi yang ingin mendapatkan faidah tambahan terkait dengan tema ini silahkan membaca kitab “al-Ansâb” karya al-Imam as-Sam’ânî yang mana beliau menyebutkan beberapa ulama terkemuka dari ‘Ajam didalam kitabnya ini, atau bisa juga membaca kitab “Mu’jamul Buldân” karya Yâqût al-Hamawî dengan melihat negeri-negeri ‘Ajam dan melihat beberapa ulama ternama dari negeri tersebut.

Kesungguhan Orang-Orang ‘Ajam Dalam Mencari Ilmu.
Ketahui lah wahai saudara ku sekalian bahwa derajat tinggi yang di raih oleh orang-orang muslim ‘Ajam dalam ilmu syar’i ini tidaklah diraih dengan hidup serba enak, bergelimang dengan kenikmatan, atau serba makan enak dan lezat, akan tetapi itu semua di raih dengan kerja keras, mengorbankan hal berharga yang ia miliki dalam rangka untuk mencari ilmu syar’i. Disini kami ingin membawakan sebuah kisah menakjubkan dalam mencari ilmu yang dilakukan salah seorang imam besar dari negeri ‘Ajam yaitu kisah Imam Baqî bin Makhlad rahimahullâh dari negeri Andalus.
Baqî bin Makhlad adalah seorang yang hidup dinegeri Andalus yang ketika itu adalah negeri Islam yanh ada di bumi bagian barat. Beliau memiliki inisiatif untuk melakukan perjalanan jauh menuju bumi Islam bagian timur yaitu negeri Baghdad dalam rangka untuk belajar kepada imam besar di zamannya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, akan tetapi beliau adalah seorang yang faqir  tidak memiliki bekal untuk melakukan perjalanan kesana. Namun itu semua tidaklah memutuskan semangatnya agar dapat bergi ke Baghdad dalam rangka bertemu dengan Imam Ahmad rahimahullâh, walaupun kebanyakan perjalanannya kesana harus ditempuh dengan jalan kaki.
Mungkin anda bisa membayangkan wahai saudaraku bagaimana lelahnya perjalanan panjang tersebut perjalanan dari bumi barat menuju ke bumi bagian timur dalam rangka mencari ilmu.
Akan tetapi segala kesuliatan itu di tempuh oleh Baqî bin Makhlad agar bisa berjumpa dengan Imam Ahmad di Baghdad. Akan tetapi sesampainya di Baghdad beliau mengalami kesedihan yang luar biasa dikarenakan ketika itu kaum muslimin mendapatkan sebuah ujian yang luar biasa. [14] Sehingga imbasnya Imam Ahmad pun harus diisolir dari pergaulan masyarakat dan orang-orang dilarang belajar kepada Imam Ahmad. Akan tetapi meskipun demikian keadaannya Imam Baqî tetap bertekad untuk belajar dengan Imam Ahmad apapun resikonya.
Pergilah Imam Baqî menuju rumahnya Imam Ahmad kemudian ia mengetuk pintu rumahnya sembari berkata, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad) aku adalah seorang yang datang dari negeri yang jauh, aku baru pertama kalinya datang ke negeri ini, dan aku datang kepadamu untuk mengambil hadits darimu.” Kemudian berkata Imam Ahmad kepadanya, “Masuklah agar tidak ada orang lain yang melihat kita.
Kemudian Imam Ahmad pun menanyakan tentang daerah asalnya, maka Baqî menjawab bahwasanya ia berasal dari Andalus, kemudian Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya engkau datang dari negeri yang jauh dan pantas untuk aku layani (untuk belajar kepadanya)”, akan tetapi Imam Ahmad meminta udzur kepadanya karena ia dalam keadaan diisolir dan dilarang menyampaikan hadits dan pelajaran, serta dilarang berjumpa dengan siapapun dari penuntut ilmu dirumahnya.
Kemudian Imam Baqî menawarkan sebuah usulan cerdik  tatkala beliau beliau mengambil hadits dari Imam Ahmad, yaitu tatkala beliau datang kepada Imam Ahmad beliau datang dengan menyamar sebagai pengemis, maka ide ini kemudian disepakati oleh Imam Ahmad .
Maka tibalah saatnya datang Imam Baqî kepada Imam Ahmad dalam keadaan berpakaian seperti pengemis sembari berkata, “Berilah aku upah mudah-mudahan Allah memberimu ganjaran..” Maka kemudian Imam Ahmad mempersilahkannya untuk masuk kemudian beliau mencatat hadits dari Imam Ahmad satu hadits atau dua hadits saja agar tidak diketahuia oleh orang yang mengintai. Hal ini terus berjalan sampai terkumpul pada beliau kurang lebih sekitar tiga ratus hadits .
Kemudian hilanglah ujian yang menimpa Imam Ahmad dengan ijin Allah, sehingga beliau bisa kembali lagi mengajar dan mendikte hadits, maka beliau pun memuji Imam Baqî dihadapan murid-muridnya yang lain tentang keseriusan dan kesengguhan nya dalam menuntut ilmu.
Pada suatu ketika Imam Baqî jatuh sakit sehingga tidak bisa menghadiri majelis Imam Ahmad, kemudian datanglah Imam Ahmad menjenguknya. Maka terkejutlah orang-orang yang ada di sekitarnya setelah melihat kedatangan Imam Ahmad menjenguknya, sehingga setelah itu mereka mengetahui bahwa Imam Baqî adalah seorang yang mulia dan memiliki kedudukan dikarenakan imam Ahmad datang secara pribadi untuk menjenguknya. Setelah itu orang-orang yang ada di sekitarnya mengirimkan makanan, selimut, kasur, atau yang lainnya kepada Imam Baqî, sehingga berkata Imam Baqî, “Pelayanan mereka ketika aku sakit lebih banyak dari pada pelayanan yang diberikan oleh keluargaku ketika aku sakit.”
Mudah-mudahan Allah ta’âla merahmati beliau dengan rahmat yang luas, sungguh beliau telah mengerahkan kemampuan yang ada dalam rangka mencari ilmu.

Peran Kaum Muslimin ‘Ajam Dalam Jihad Fî Sabîlillâh.

Peran sentral Kaum muslim ‘Ajam tidak hanya sebatas pada bidang keilmuan saja, bahkan dalam hal jihad fî sabî lillâh untuk menjaga agama Allah pun mereka memiliki andil yang besar pula. Diantar mereka adalah Shalahuddîn al-Ayyûbî berasal dari Kurdi bukan orang Arab, beliaulah yang membebaskan tanah palestin dari penjajahan orang-orang salibis.
Demikian juga Saefuddîn Quthuz dari negeri Ashfahân yang mana ia berhasil mengusir pasukan tatar (Mongolia) dari negeri Islam dengin izin Allah ta’âla.
Allah telah menjaga agama Islam ini dengan prantaraan mereka dan orang-orang yang semil dengan mereka.
Ceramah ini tidak lain dalam rangka untuk menumbuhkan semangat kita bersama terutama orang-orang ‘Ajam (non Arab) untuk meniru para pendahulu mereka tersebut dalam rangka berkhidmat kepada Islam.
Apakah kita lupa atau tidak tahu siapakah pembaharu dan pakar dalam bidang hadits pada abad ini? Dia bukanlah orang Arab, dialah Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî rahimahullâh beliau berasal dari negeri Albania yang ada dibenua Eropa, sungguh keilmuan beliau telah membuat banyak orang-orang Arab mengambil faidah darinya.

Sebagai penutup:
Sudah tibalah saatnya bagi anda untuk berkhidmat kepada Islam ini…
Bulatkanlah tekad dari sekarang untuk berkhidmat bagi agama Islam ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu anda dari kalangan ‘Ajam ..bersiaplah untuk menghadapi rintangan dan kesulitan , atau menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu seperti yang dilakukan oleh Salmân. Serta bersiaplah untuk berkorban dengan harta anda sebagaimana yang dilakukan oleh Suhaib. Atau bersabarlah sebagaimana sabarnya Bilâl.
Sudah saatnya lah bagi orang-orang ‘Ajam untuk berperan aktif dalam mencari ilmu dan menyebarkannya.
Apabila anda ingin menonjol dalam keilmuan Fiqih maka teladanilah orang-orang seperti Abu Hanîfah, Ibnu Hazm dan yang lain-lainnya, serta mulailah dari sekarang.
Dan apabila anda ingin menonjol dalam bidang Hadits maka teladanilah imam Bukhâri , serta mulailah dari sekarang.
Dan saya yakin para hadirin yang hadir merasa tergerak setelah mendengarkan ceramah ini untuk membulatkan tekadnya dalam rangka untuk berkhidmat demi kebangkitan umat ini. Walhamdulillahi Rabbil ‘âlamin.


Diadabtasi dari Ceramah di masjid Abu Bakr as-Siddîq Bontang disampaikan oleh Syaikh Dr. Syâdi bin Muhammad bin Nu’mân.
Pimpinan lembaga An-Nu’mân (lembaga di bidang penelitian manuskrip Islam)
Karya tulis beliau:
  1. Mausû’atul Al-Bânî 50 jilid. Sudah terbit 9 jilid tentang masalah Aqidah.
  2. Qadhôul Wathor syarah Nuzhatun Nadzar (3 jilid).
  3. Syarah Alfiyah As-suyûthî (1 jilid)
  4. At-Takmîl Fî JarhiWat Ta’dîl Ibni Katsîr. Dll.
Diambil dari : www.serambiyemen.com
[1] Sekarang ini adalah Negara Iran dan sekitarnya.
[2] Kota yang sekarang ini terletak di Iran tengah.
[3] Yaitu agama yang menyembah api dan matahari.
[4] Salah satu nama kota yang ada di Iraq.
[5] Kota yang ada di negeri Iraq.
[6] Kota yang terletak di Eropa timur.
[7] Yang sekarang ini dikenal dengan Madinah Munawwarah.
[8] Suatu tempat pekuburan yang ada di kota Madinah.
[9] Berkaitan dengan kisah Salman lihatlah literature berikut ini, Siyar min a’lâmin Nubalâ (1/362-405), dan Suwar min hayâtis shahâbah (hal 109-116).
[10] Yang sekarang ini masuk benua Eropa.
[11] Tentang biografi Suhaib bin Sinân ar-Rûmî radiyallahu’anhu silahkan dibaca literatur berikut ini: Al-Ishâbah (2/195) Suwar Min Hayâtish Shahâbah (hal 198-205).
[12] Sekarang ini adalah Spanyol.
[13] Ilmu yang mempelajari tentang kredibilitas seorang perawi dalam periwayatan haditsnya.
[14] Adanya intimidasi dan paksaan dari khalifah ketika itu untuk mengatakan aqidah yang terlarang yaitu Al-Qur’an adalah makhluq, sehingga diantara para ulama ketika itu yang diintimidasi, di penjara, dan mendapat siksa adalaha imam Ahmad bin Hanbal.


EmoticonEmoticon