Rabu, 13 Januari 2010

laa Ilaha Illallah



Beberapa Pemaknaan Keliru Dari Kalimat Tauhid

Untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap makna kalimat tauhid yang mulia ‘laa Ilaha Illallah’, maka di sini kami akan menjelaskan beberapa pemaknaan yang keliru dari kalimat tauhid ini. Karena sesuatu tidak akan bisa dikenali secara sempurna kecuali dengan mengenali kebalikannya, maka demikian pula kalimat tauhid yang mulia ini tidak akan bisa dipahami maknanya secara sempurna kecuali setelah mengetahui pemaknaan-pemaknaan keliru yang tersebar di tengah kaum muslimin. Seorang penya`ir pernah berkata, “Sesuatu akan dinampakkan kebaikannya oleh kebalikannya dan dengan kebalikannyalah semua perkara bisa menjadi jelas”.

Berikut beberapa pemaknaan yang keliru tersebut:
1.    Tidak ada yang ada kecuali Allah. (Laa Mawjuda Illallah)
Makna ini adalah makna yang paling batil dari semua makna-makna batil yang ada. Penafsiran ini disebarkan oleh orang-orang tashawwuf yang berpemahaman wihdatul wujud (Allah menyatu dengan makhluk-Nya) wal’iyadzu billah. Sisi kebatilannya ditinjau dari beberapa sisi: Pertama. mengartikan ilah sebagai mawjud (yang ada) sedangkan makna yang benar adalah bermakna ma’bud (yang disembah). Kedua, meniadakan khabar dari laa dan ini adalah kesalahan dari sisi bahasa sekaligus dalil akan rusaknya penafsiran ini dari sisi syari’at. Lihat makna laa Ilaha illallah sebelumnya. Ketiga, mengharuskan semua makhluk itu adalah Allah, karena semuanya ada dan disaksikan, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka sifatkan. Keyakinan ini kalau diyakini membuat pelakunya keluar dari Islam dan jauh lebih kafir daripada Nashrani. Karena Nashrani hanya meyakini adanya tiga Tuhan, sedangkan orang yang berkeyakinan seperti ini memiliki Tuhan yang tidak terbatas. Keempat, atau mengharuskan hanya Allah yang ada sedangkan kita semua sebagai makhluk-Nya mereka anggap tidak ada. Ini jelas kebatilannya dari sisi akal, hiss (panca indera) terlebih lagi dari sisi syari’at.

2.    Tidak ada sembahan yang ada kecuali Allah. (Laa ma’buda mawjudun illallah)
Makna dan tafsiran ini umumnya dikemukakan oleh sebagian ahli bahasa yang tidak memahami dengan benar makna ‘Laa Ilaaha Illallah’. Makna ini muncul karena mereka menyatakan bahwa khabar yang terbuang adalah kata ‘mawjudun’ atau ‘kainun’ yang berarti ‘ada’, sebagaimana yang biasa mereka sebutkan ketika menyebutkan taqdir (makna penyempurna) dari suatu kalimat. Padahal taqdir yang benar adalah haqqun atau bihaqqin sebagaimana telah dijelaskan. Dari sisi kedua, tafsiran ini menyelisihi kenyataan yang ada, karena kaum musyrikin di zaman Nabi maupun kaum musyrikin zaman sekarang- mereka menyembah sembahan lain selain Allah, seperti: Dukun, keris, jimat, kuburan, sapi, jin, patung-patung dan lain-lainnya tidak terhitung. Maka tidaklah benar kalau dikatakan yang disembah manusia hanyalah Allah saja. Kemudian dari sisi yang ketiga mengharuskan bahwa semua sembahan yang ada di dunia ini baik yang berhak disembah maupun yang batil- semuanya adalah Allah dan cukuplah ini sebagai suatu kesesatan yang nyata.

3.    Mengeluarkan keyakinan rusak yang berkenaan dengan makhluk dan memasukkan keyakinan yang benar tentang Allah. (Ikhrojul yaqin al-fasid ‘alal asyya` wa idkholil yaqin ash-shodiq alalllah)
Ini adalah penafsiran orang-orang sufi modern yang lebih dikenal dengan nama jama’ah tablig. Penafsiran ini juga batil baik dari sisi bahasa sebagaimana yang telah berlalu- terlebih lagi dari sisi syari’at. Hal itu karena amalan seperti ini yaitu hanya yakin kepada Allah Azza Wa Jalla dan mengeluarkan keyakinan mengenai selain-Nya adalah perkara yang tidak mungkin terjadi. Karena keyakinan semacam ini tsabit (tetap) pada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya dalam surah At-Takatsur ayat 6-7, “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat)”.
Demikian pula ketika kita beriman kepada para malaikat, para nabi dan seterusnya, mengharuskan kita memasukkan keyakinan yang benar tentang malaikat dan seterusnya. Maka meyakini sesuatu yang terjadi dan merupakan kenyataan yang diketahui, tidaklah menafikan dan bertentangan dengan tauhid. Bahkan penafsiran ini mengharuskan kita tidak boleh beriman kepada malaikat, para nabi, hari kiamat dan seterusnya dari rukun iman.

4.    Tidak ada hakim (pemberi hukum) kecuali Allah (Laa Hakima illallah)
Ini adalah penafsiran semua sekte dan kelompok yang berpemahaman khawarij (takfiri). Yang dengannya mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah -menurut sangkaan mereka- secara mutlak tanpa ada perincian.
Adapun sisi kebatilannya, maka bisa ditinjau dari dua sisi: Pertama, sisi bahasa, yang mana mereka memaknakan ilah sebagai hakim, padahal makna ilah adalah ma’bud (sembahan) sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. Kedua, kKeharusan dari makna ini adalah bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia belum ber-laa Ilaha illallah yang dengannya dia belum dihukumi sebagai seorang muslim. Oleh karena itulah orang yang membenarkan penafsiran ini, mereka mengkafirkan kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah tanpa membedakan niat dan tujuan mereka, karena semuanya -menurut sangkaan mereka- belum masuk ke dalam Islam, wal ‘iyadzu billah.

5. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (Laa Rabba bihaqqin illallah).
Pemaknaan seperti ini sempat kami temui pada beberapa tulisan dan buku terjemahan, baik yang tercetak maupun yang berupa artikel di internet. Dan yang lebih menyedihkan, ternyata penulis atau penerjemahnya menisbatkan diri kepada ahlussunnah atau salaf.  Sisi kesalahannya adalah memaknakan ‘Ilah’ sebagai ‘Rabb’, padahal telah berlalu penjelasannya bahwa makna ‘Ilah’ yang benar adalah ‘ma`luh’ atau ‘ma’bud’. Bukankah dia telah menghafal firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia.” (QS. An-Nas: 1-3) Maka dalam ayat ini jelas sekali Allah membedakan antara makna Rabbunnas (Tuhan manusia) dengan Ilahinnas (Sembahan manusia).

6. Tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah)
Ini adalah penafsiran yang dikemukakan oleh para ahli kalam dan filsafat atau yang terpengaruh dengan mereka.
Kata robbun (Tuhan) dalam bahasa Arab mencakup 3 makna, yaitu Al-Kholiq (pencipta), Al-Malik (penguasa) dan Al-Mudabbir (pengatur). Maka siapa yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya, berarti dia meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, yang menguasai dan yang mengatur dirinya beserta seluruh makhluk.
Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa makna kalimat ini ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ adalah benar. Hanya saja yang merupakan kekeliruan kalau kalimat ini dijadikan sebagai makna kalimat laa ilaha illallah. Hal itu karena kaum musyrikin Quraisy dan ahli kitab, bahkan Iblis, semuanya meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Berikut beberapa dali yang menunjukkan hal tersebut:
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)
“Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. (QS. Al-Hijr: 36)
“Dan mereka (Firaun dan tentaranya) mengingkarinya (Allah adalah Tuhan) karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya“. (QS. An-Naml : 14)
Maka lihatlah, bagaimana kaum musyrikin, Firaun bahkan Iblis meyakini tidak ada Tuhan selain Allah. Oleh karena itulah para Rasul tidak diutus untuk menyuruh mereka mengakui Allah sebagai Tuhan akan tetapi untuk menyerukan kepada mereka agar mereka hanya menyembah kepada Allah dan meninggalkan semua sembahan selainNya.

1 komentar so far

Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.


EmoticonEmoticon