Minggu, 22 April 2012

Download Rekaman Muhadharah Bersama Syaikh Muhammad Sa'id Al-Adeni Hafidahullah Ta'ala

Berikut ini adalah rangkaian rekaman kajian muhadharah bersama syaikh muhammad Sa'id Al-Adeni hafidahullah ta'ala,yang diselenggarakan di Yayasan Ihyaussunnah Bontang Kalimantan Timur dari tanggal 3-22 april 2012. Beliau adalah murid Syaikh Muqbil dan Syaikh Abul Hasan As-Sulaimany dan saat ini adalah piimpinan Darul Hadits di propinsi Ib Yaman Kegiatan iniatas kerjasama Yayasan Ihyaussunnah Bontang dan Kajian An-Nashihah. Kepada seluruh donatur, panitia,dan semua pihak yang turut membantu terselenggaranya daurah ini, semoga Allah melipatgandakan pahala kepada antum semua. Amin.





Untuk download, silahkan klik link berikut:
  1. Daurah hari 1 Konsep Bermuamalah dengan Pemerintah
  2. Daurah hari 2 Himmah dalam Menuntut Ilmu
  3. Daurah hari 3 Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan Allah
  4. Daurah hari 4 Bahaya Sifat Hasad
  5. Kajian Muslimah / Ummahat Tokoh Wanita Yang Diabadikan Dalam Al-Quran 
  6. Kajian Muslimah / Ummahat Perbandingan Antara Wanita Jaman Jahiliyah dengan Setelah Datangnya Islam
  7. Kajian Muslimah / Ummahat Kesalaha-Kesalahan Yang Dilakukan Oleh Para Wanita
  8. Kajian Muslimah / Ummahat Kemungkaran-kemungkaran Dalam Walimah
  9. Muhadharah tentang Kesalahan-Kesalahan Sholat Bagian Pertama
  10. Muhadharah tentang Kesalahan-Kesalahan Sholat Bagian Kedua
  11. Muhadharah tentang Hikmah dalam Berdakwah
  12. Muhadharah tentang Kesalahan-Kesalahan Dalam Aqidah
  13. Muhadharah tentang Kaidah Antara Maslahat dan Madharat Hari Pertama
  14. Muhadharah tentang Kaidah Antara Maslahat dan Madharat Hari Kedua
  15. Muhadharah tentang Solusi Atau jalan keluar dari Fitnah
  16. Muhadharah tentang Perkara Kebiasaan Jahiliyah Hari Pertama
  17. Muhadharah tentang Perkara Kebiasaan Jahiliyah Hari Kedua
  18. Muhadharah tentang Perkara Kebiasaan Jahiliyah Tanya Jawab
  19. Tanya Jawab dengan Jama'ah Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq
  20. Khutbah Jum'at
.
Baca Selanjutnya...

Jumat, 13 April 2012

Daurah Hikmah dalam Berdakwah Bersama Ustadz Abdullah Taslim (Balikpapan, 20-22 April 2012)

BISMILLAH…..
H A D I R I L A H….
TABLIGH AKBAR ILMIYAH SYAR’IYAH
B e r s a m a:
Ustadz Abdullah Taslim, MA
(Magister Hadits Univ. Islam Madinah Saudi Arabia KSA)

InsyaAllah dengan Tema:
HIKMAH DALAM BERDAKWAH
(Perbedaan Antara Nasehat Dan Celaan)

Waktu dan tempat:
Ahad, 22 April 2012 Pukul 08.00 s.d. Dzuhur (dilanjutkan sesi tanya jawab ba’da Ashar) di masjid Istiqlal Pertamina Balikpapan (samping stadion Persiba)
Hadiri pula kajian beliau dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
- Hari Jum’at, 20 April 2012 di masjid Istiqamah Balikpapan ba’da sholat maghrib tema “Hubungan Keikhlasan Dalam Keberhasilan Menuntut Ilmu”
- Hari Sabtu, 21 April 2012 di masjid Istiqlal Balikpapan:
Ba’da shalat Subuh: “Beberapa Contoh Talbis Iblis”
Sabtu pagi Pukul 09.00 – 10.00 (khusus MUSLIMAH): “Wanita Ahli Surga” (saudariku inilah kemuliaanmu)
Ba’da sholat Maghrib: “Islam itu Al Qur’an dan Assunnah (Bukan yang Lain)”
Demikian informasi ini disampaikan, jazakallahu khairan wa barakallahu fiikum
Acara Ini Terselenggara atas kerjasama Forum Remaja Muslim Balikpapan (FORMIB) dengan DKM Masjid Istiqlal Pertamina Balikpapan
*info: 085247077334 (FORMIB) / 081952505875 (akh. Roiful Hadits)



Baca Selanjutnya...

Selasa, 03 April 2012

Hadirilah TABLIGH AKBAR Bersama Syaikh Muhammad Sa’id (Pimpinan Markaz Darul Hadits, kota IB – Yaman)

BONTANG :Masjid Abu Bakr Ash Shiddiq, Pisangan Bontang
  • Kajian rutin          : Setiap hari Ba’da Maghrib ( tgl 03 s/d 19 April 2012 )
  • Kajian ummahat    : Setiap Selasa, Rabu, Kamis  ( jam 09.30 – 11.00 WITA )
Dauroh I
Sabtu, 07 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Tekad Tinggi Dalam Menuntut Ilmu
Dauroh II
Ahad, 08 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Konsep Bermuamalah Dengan Pemerintah
Dauroh III
Sabtu, 14 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Tujuh Golongan Yang Dinaungi Alloh Di Hari Kiamat
Dauroh IV
Ahad, 15 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Bahaya Hasad
BALIKPAPAN : Masjid Istiqomah
Dauroh I
Sabtu, 21 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Mengambil Ibroh Atas Wafatnya Rosululloh

Dauroh II
Ahad, 22 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Pokok – Pokok Ekonomi Islam
Penerjemah : Ust. Abu Ya’la dan Ust. Ainurreza Lc

Contact person
1. Bpk Rosiin ( 08125526103 / 085752817103 )
2. Ust. Abu Ya’la ( 087810100942 / 082110375445 )
3. Akhi Wahyudi Setiawan ( 085249721532 )
4. Bpk Afrizal ( 081347347259 ), untuk Balikpapan
Acara ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Pendidikan Ihyaussunnah Bontang dengan Forum Kajian An – Nasihah Bontang
Syaikh Muhammad Sa’id adalah murid Syaikh Muqbil dan Syaikh Abul Hasan As-Sulaimany beliau adalah pimpinan Darul Hadits di propinsi Ib Yaman.

Baca Selanjutnya...

Senin, 12 Maret 2012

Memetik Faedah dari Hadits Kisah Wanita Tua dari bani Israil

Dalam sebuah riwayat dikisahkan:
عن أبي موسى قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم:) سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل ظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار
Dari Abu Musa ia berkata, seorang badwi datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian beliau memuliakannya dan berkata: ‘kemarilah‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
( Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam turun dari tunggangan beliau lalu memuliakannya. Beliau berkata kepada orang itu: ‘kemarilah bersama kami‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: )
Sebutlah apa yang engkau inginkan“. Orang badwi menjawab: ‘Saya ingin unta dan pelananya serta kambing yang dapat diperah untuk memberi minum keluarga saya’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda:
“Apakah kalian tidak menginginkan seperti yang diinginkan oleh wanita tua dari Bani Israil?”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapa yang dimaksud wanita tua dari Bani Israil itu?”. Beliau berkata: “Musa ketika pergi dari Mesir bersama Bani Israil, mereka tersesat di jalan”. Musa bertanya: “Apa sebabnya menjadi begini?”. Orang-orang berilmu dari Bani Israil menjawab: “Kami beritahukan kepadamu, Nabi Yusuf ketika menjelang wafatnya membuat perjanjian dengan kami yang dipersaksikan oleh Allah, yaitu agar tidak keluar dari Mesir kecuali membawa jasad beliau bersama kami”. Musa berkata: “Kalau begitu siapa yang mengetahui dimana letak kuburnya?”. Mereka berkata: “Diantara kami tidak ada yang tahu letak makam beliau kecuali seorang wanita tua dari Bani Israil”. Lalu Musa mengutus orang untuk memanggilnya hingga wanita tersebut datang kepada Musa. Musa berkata kepada wanita itu: “Tunjukan kami letak makam Nabi Yusuf”. Wanita tersebut berkata: “Demi Allah tidak akan aku lakukan, sampai engkau mentaati ketentuanku”. Musa bertanya: ‘”Apa ketentuanmu itu?”. Wanita tersebut berkata: “Jadikan aku penghuni surga bersamamu”. Nabi Musa pun enggan memenuhinya, hingga Allah mewahyukan kepada Musa agar mentaati ketentuan tersebut. Lalu mereka pergi ke mata air dari sebuah danau. Wanita tersebut berkata: “Keringkan airnya lalu gali dan keluarkanlah jasad Nabi Yusuf”. Ketika jasadnya diangkat, jalan pun seketika menjadi jelas bagaikan terangnya siang.
(HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/344, Al Hakim 2/404-405)
Derajat Hadits
Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Bukhari dan Muslim”. Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: “Yang benar, hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Muslim saja. Karena Al Bukhari tidak mengeluarkan riwayat Yunus di dalam Shahih-nya, melainkan di kitabnya yang lain yaitu Juz Al Aqira’ah“. (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/623)
Faidah Hadits
  1. Betapa mulianya akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap orang awam.
  2. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah pemimpin negara yang senantiasa peduli terhadap kebutuhan rakyatnya, terutama orang-orang lemah yang kurang mampu. Tidaklah tersisa harta beliau melainkan sebatas harta untuk memenuhi kewajiban sebagai suami kepada keluarganya dan harta untuk diberikan kepada orang lain. Sebagaimana sabda beliau:
    لا يحل للخليفة من مال الله إلا قصعتان قصعة يأكلها هو وأهله وقصعة يضعها بين يدي الناس
    Bagi seorang khalifah, tidak halal memiliki harta dari Allah, kecuali dua piring saja. Satu piring untuk kebutuhan makannya bersama keluarganya. Dan satu piring untuk ia berikan kepada rakyatnya” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no.362)
  3. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membimbing umat-nya agar senantiasa lebih mendambakan kebaikan akhirat dibanding kebaikan dunia semata. Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:
    فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْـحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَـهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟
    Ketika aku melihat bekas tikar di sisi badan beliau, aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku jawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra dan Kaisar berada dalam kemegahannya, padahal engkau adalah utusan Allah” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (Muttafaq ‘alaihi)
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
    Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.” (HR. Muslim no.2858).
  4. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengharapkan para sahabatnya meminta sebagaimana yang diminta oleh wanita tua dari Bani Israil, yaitu: surga. Ini menunjukkan bahwa mengharap surga itu tidaklah tercela, bukan tanda sedikitnya keikhlasan, bukan tanda rendahnya cinta kepada Allah, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.
  5. Kaum Bani Isra’il ketika itu berada di atas ilmu dan tauhid yang lurus, mereka tidak menyembah atau mengagungkan kuburan para Nabi. Mereka tidak ngalap berkah atau bertawassul dengan mayat para Nabi. Silakan simak  Hukum Ber-tabarruk Kepada Orang Shalih.
  6. Jangankan menyembah kuburan atau ngalap berkah, bahkan tidak terbesit dalam benak mereka untuk mencari tahu letak kuburan para Nabi. Yang tahu pun, ternyata tidak gembar-gembor atau dengan mudah memberi tahu letaknya. Mereka juga tidak membangun dan membuat megah kuburan tersebut. Nabi Musa dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mencela mereka karena demikianlah yang seharusnya. Berbeda dengan orang-orang di zaman ini yang malah mencela orang-orang yang enggan mengagungkan kuburan orang shalih agar tidak dijadikan sarana kesyirikan.
  7. Para Nabi tidak dapat memberi syafa’at kecuali atas izin Allah. Sebagaimana Nabi Musa tidak dapat menjamin wanita tersebut masuk surga kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman:
    قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
    Katakanlah, hanya milik Allah lah semua syafa’at itu. Ia yang menguasai langit dan bumi dan kepada-Nya lah engkau akan kembali” (QS. Az Zumar: 44)
  8. Jasad para Nabi tidak hancur dimakan tanah.
  9. Bukti adanya mu’jizat bagi para Nabi.
  10. Wajibnya menunaikan janji, terlebih lagi perjanjian dengan para Nabi Allah.
  11. Kata عظام yang artinya ‘tulang-belulang’ kadang bermakna ‘badan seutuhnya’. Jika  عظام dalam hadits di atas kita artikan  ’tulang-belulang’, maka bertentangan dengan hadits:
    إن الله تعالى حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء
    Sungguh Allah Ta’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi” (HR. Abu Daud 662, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no.1527).
    Namun yang benar, kita maknai  عظام dengan makna  ’badan seutuhnya’ sebgaimana terdapat hadits :
    أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك؟ قال: بلى فاتخذ له منبرا مرقاتين
    Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sudah berusia senja, Tamim Ad Daari berkata kepada beliau:’Wahai Rasulullah, maukah aku ambilkan mimbar yang dapat membawa badanmu?’. Beliau berkata: ‘Boleh’. Lalu ia mengambil mimbar yang memiliki 2 anak tangga” (HR. Abu Daud 1081, Al Albani berkata: “Sanadnya jayyidsesuai dengan syarat Muslim”).
    Demikian penjelasan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (1/624).

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id
Baca Selanjutnya...

Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?

Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]
Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]
Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]
Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”1 . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.
Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid
Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah rodhiallohu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah rodhiallohu ‘anha berkata,
 كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
 “Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]
Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].
Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.
Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rohimahullohu menjelaskan hadist ini,
“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]
Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
 ”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Tingginya ilmu bukan tolak ukur iman dan tauhid
Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu Alloh Azza wa Jalla berfirman,
 جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
 “Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-Waqi’ah: 24]
Alloh TIDAK berfirman,
جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ
 “Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”
Dan cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan,
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَْ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
 ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff : 3)
Dan bisa jadi Ilmunya tinggi karena di karuniai kepintaran dan kedudukan oleh Alloh sehingga mudah memahami, menghapal dan menyerap ilmu.
Ilmu Agama hanya sebagai wawasan ?
Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]
Sibuk belajar ilmu fiqh dan Ushul, melupakan ilmu akhlak dan pensucian jiwa
Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ilmu fiqh, ushul tafsir, ushul fiqh, ilmu mustholah hadist dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ilmu akhlak dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlak kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan Akhlak manusia.
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].
Ahlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah
Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlak mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah. Beliau berkata,
“Dan mereka (al-firqoh an-najiah ahlus sunnah wal jama’ah) menyeru kepada (penerapan) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka“. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan 'Aqiidah al-Waashithiyyah]
Bagi yang sudah “ngaji” Syaitan lebih mengincar akhlak bukan aqidah
Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya insyaAlloh sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.
Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)
Kita butuh teladan akhlak dan takwa
Disaat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ilmu tetapi kita lebih butuh teladan ahklak dan takwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlak dan takwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.
Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adab orang tersebut baru kita mengambil ilmunya. Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’. (Waratsatul Anbiya’, dikutip dari majalah Asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, halaman 76 s.d. 78)
Kemudian pada komentar ketiga,
Baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat
Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulama pun demikian sebagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata,
“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]
Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?
Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak.
Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullahu :
طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم
“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]
Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.
Imam Al Ghazali rahimahullahu berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” [Thabaqat Asy Syafi’iyah, dinukil dari tulisan ustadz Kholid syamhudi, Lc, majalah Assunah].
Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka insyaAlloh ilmu tersebut akan memperbaiki akhlak kita dan pribadi kita.
Mari kita perbaiki akhlak untuk dakwah
orang salafi itu ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal tapi keras dan mau menang sendiri” [pengakuan seseorang kepada penyusun]
Karena akhlak buruk, beberapa orang menilai dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklak pelaku dakwah itu sendiri. Padahal rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” [HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmi no.69]
Karena Akhlak yang buruk pula ahlus sunnah berpecah belah, saling tahzir, saling menjauhi yang setelah dilihat-lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya. Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlak pendakwahnya yang mulia.
Jangan lupa berdoa agar akhlak kita menjadi baik
Dari Ali bin Abi Thalib Rodhiallahu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:
,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ
وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ
Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)
Dan doa dijauhkan dari akhlak yang buruk,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.
Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
27 Ramadhan 1432 H Bertepatan 27 Agustus 2011
 Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis dan memperbaiki akhlak kami
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslim.or.id
[1] ngaji: istilah yang ma’ruf, yaitu seseorang mendapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salafus shalih, istilah ini juga identik dengan penuntut ilmu agama
Baca Selanjutnya...

Senin, 06 Februari 2012

Tabligh Akbar Februari 2012 Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Hadirilah TERBUKA UNTUK UMUM
Tabligh Akbar dan Safari Dakwah Bersama :
FADHILATUS SYAIKH Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al’Abbad Al Badr
(Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia) Syaikh insyaAllah akan mengadakan safari dakwah di beberapa kota di P. jawa, diantaranya:


TABLIGH AKBAR DI MAGELANG
Penerjemah :
Ustadz Abdus Salam Busro, Lc.
Insya Allah akan diselenggarakan pada:
Hari: Selasa, 14 Februari 2012
Pukul: 12.30 – Ashar,
Tempat: Masjid Sa’ad bin Abi Waqos
Alamat: Belakang SMA Negeri 1 Salaman, Magelang
Islamic Centre Sa’ad bin Abi Waqos, Salaman, Magelang
Informasi:
Ustadz Muhammad Wujud Abu Ammar – 081 328 600 73
Prajoko, SH – 081 125 3010
Fuad Toto Suslio, SE – 087 834 237 464


TABLIGH AKBAR DI YOGYAKARTA
Hari/tgl :Rabu, 15 Februari/ 22 Rabiul Awwal 1433 H
Waktu : 08.00 – Dhuhur
Tempat : Islamic Centre Bin Baz
Jl. Wonosari KM 10, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta
Tema : Untaian Nasehat Untuk Umat
CP : 082135770347, 082135505903
Muslim.or.id
Penyelenggara : Islamic Centre Bin Baz
Disiarkan juga di radiomuslim.com


TABLIGH AKBAR DI SURABAYA DAN SIDOARJO
Penerjemah:
Ustadz Mubarok Bamu’alim, Lc.
insya Allah diselenggarakan pada:
Hari: Kamis, 23 Robi’ul Awwal 1433 H / 16 Februari 2012Pukul: 09.00 – 12.00
Tempat: LPI (Lembaga Pendidikan Islam) Sari Bumi
Alamat: Jalan Raya Lingkar Timur Km. 15 Bluru Sidoarjo
Pukul: Ba’da Maghrib s.d. selesai
Tempat: Kampus STAI Ali bin Abi Thalib
Alamat: SurabayaInformasi:
(031) 71856076, 085850322171



TABLIGH AKBAR DI GRESIK
Hadirilah Terbuka untuk umum!
insya Allah diselenggarakan pada:
Hari: Jumat, 24 Robi’ul Awwal 1433 H / 17 Februari 2012
Pukul : 08.30 – 15.00 WIB
Tempat : Masjid Jami’ Sulthon Az-Zakary PonPes Al-Furqon Al-Islami Sidayu Gresik Jatim
InsyaAllah khutbah jum’at bersama syaikh abdurrazaq al-badr.
Info : 081357907627
TABLIGH AKBAR DI MALANG
Insya Allah pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 25 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 18 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – Dhuhur
Tempat : Masjid An – Nur
Alamat : Jl. Jagalan Saleyer IC/7C (belakang Rumah Makan Cairo) – Malang.
Info : (0341) 336476 atau 081334183554
Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.
Insya Allah LIVE di Radio Dakwah Islamiyah (RDI) FM 100.5
Bagi antum yang tidak bisa menangkap siaran Radio Dakwah Islamiyah insya Allah bisa mengikuti melalui raduo streaming di http://www.kajianislam.net/ atau melalui telpon Flexi ketik *55*571005

TABLIGH AKBAR DI JAKARTA
Dengan tema :
MENITI JALAN MERAIH KECINTAAN ALLAH TA’ALA
Waktu : Ahad, 26 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 19 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – dzuhur
Tempat : Masjid ISTIQLAL Jakarta Pusat
Info : (021) 8233661, (021) 70736543 , 08121055891
Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.
Insya Allah LIVE di radio rodja 756 am dan rodja TV.


Sumber : www.kajiansalaf.com
HARAP DISEBARLUASKAN!
Baca Selanjutnya...

Kamis, 19 Januari 2012

Tabligh Akbar Kajian Ilmiah Samarinda 2012

HADIRILAH!!!
Terbuka untuk UMUM Ikhwan dan Akhwat
Tabligh Akbar Kajian Islam
Bersama: Ust. Ainur Rofiq Gufron, Lc (Pimpinan Ponpes Al-Furqon Gresik Jatim). Beliau juga penasehat majalah islam Al-Furqon dan Al-Mawaddah.
Hari : Sabtu, tanggal 21 januari 2012 | 26 Safar 1433 H
Tempat : Masjid Al-Ma’ruf depan Mall Lembuswana Samarinda
Jam : 09.00 s/d 12.00 WITA
Masjid Al-Ma'ruf Samarinda
dan
Masjid Al-Mansyur
Jl. Dato Iba Sei Keledang Samarinda Seberang.
Jam : Ba’da magrib.
CP. Hendrana 081520903330

Disebarluaskan : www.kajiansalaf.com
Baarakallahu fiikum, Jazakumullahu khairan atas kunjungannya dan Semoga bermanfaat.
Baca Selanjutnya...

Rabu, 18 Januari 2012

Bagaimanakah Mempersiapkan Masa Depan Anak-Anakmu?

Oleh : Ustadz Aburrahim Ayyub

Bismillah akhi banyak pertanyaan akhir-akhir ini dari member tentang kekawatiran seorang ibu atau ayah terhadap masa depan agama anak-anaknya, ini suatu hal yang wajar karena dunia disekitar kita hidup begitu semarak dengan yang namanya maksiat dan kehidupan yang glamour, acara Televisi yang tidak lagi melihat kepada ajaran agama bak dari segi aqidah, metode (manhaj) apa lagi akhlaq. siaran radio juga seperti itu, media cetak dll.  Suatu tantangan yang wajar jika orang tua yang faham agama semakin khawatir akan anak-anaknya. Setiap keluarga berbeda menanganinya ada yang menyibukan anaknya dengan sekolah, ada yang dapat mengatur dengan jadwal yg ketat, ada yang terbengkalai siang dan malam tidak jelas kegiatan anak-anaknya bahkan tidak tahu sama sekali apa yang dikerjakan anaknya selama ini dan sudah bebebrapa tahun seperti ini. Laa hauwlaa walaa quwwata illa billah, demikian parahnya orang tua yg sibuk mencari nafkah atau lainnya dengan alasan klasik “demi anak istritetapi sebenarnya kita sedang menggali lobang kesengsaraan untuk anak istri kita. Baik buruknya anak kita bukan tugas para guru, ustadz, dll. Anak kita adalah tugas kita, bagaimana mereka terbentuk adalah tanggung jawab kita.
“Setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya akan kepemimpinan kamu” (al hadits)
“laki2 ada pemimpin bagi kaum wanita”(al ayat),
“jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (al ayat)
Dalil-dalil yang selalu kita dengar dan hafal maknanya ini, dari lisan para mubaligh, ustadz-ustadz kita, buku-buku agama,dll tidak akan menjadi suatu hal yang ada faidahnya jika kita tidak amalkan dengan kenyataan sehari hari.
Doa2 yang kita panjatkan “wahai rabb kami anugerahilah dari istri2 kami dan turunan kami sebagai penyejuk mata…dst” kadang kala hanya doa yang besifat tradisi jika amalannya bertentangan dengan doa tersebut. Seorang ayah berdoa agar anaknya tidak sesat tetapi dia bangga menyekolahkan anaknya di sekolah “kristen” dengan alasan mutunya lebih baik. Ini adalah contoh yang nyata dan sangat bertentangan.
Dengan ruh dari ajaran islam itu sendiri tentang pendidikan Islam. Alangkah buruknya seorang ayah jika memasukan anaknya kepada api yang menyala nyala dengan dalih bahwa dia sangat sayang kepada anaknya. Ini adalah sesuatu yang diluar akal sehat. Begitulah kenyataannya…
Kita selalu dihadapi dengan keadaan dimana seseorang tidak lagi melihat kampung “akhirat“, “syurga” dan “neraka” sebagai ukuran. Yang ada dibenaknya adalah “bagaimana hidup makmur di dunia ini??” Dengan jalan memuaskan dan mewajibkan diri untuk memiliki apa yang kebanyakan manusia miliki dari segi keduniaan. Sehingga keluar dari koridor “haram“, “hailal“, tidak ada lagi ukuran. Yang penting dapat bersaing dengan sesama…. Naudzubillahi mindzaalik. Bahkan mereka mulai membuat kelas-kelas sendiri dari segi “sosial” dengan ada kecenderungan tolak ukurnya hanya “they have” dan “they have not“, hanya melihat dari segi materi… sungguh ini sangat menyedihkan dan menyayat hati dan sangat jauh dari ajaran islam yang suci…. Bukan berarti disini ajaran islam menolak orang yang kaya atau kelebihan harta tidak sama sekali…
Sungguh jauh tesesat sebagaimana sesatnya keledai yang bodoh, Islam mengatur kekayaan mendidik umatnya untuk makmur memiliki harta berkecukupan dalam menopang ibadah2 serta menjalankan tugas2 yang mulia dengan jalan yang halal dan cara yang syar’i, inilah ajaran islam yang diwariskan oleh para ulama Rabbanii….
Ibnu Hajar orang yang kaya tetapi beliau orang yang alim dan pembela sunnah, Abu Hanifah pedagang ulung, kalau dikalangan sahabat adalah Ustman radliallahu anhu, Abdurrahman bin Auf, mereka kaya tetapi mereka takut pada Allah azza wajalla…. inilah yang kita inginkan.. dimana keadaan kekayaan,kemakmuran kita kita tujukan kepada perjuangan anak dan istri kita menuju ridho Allah azza wajalla dan menuju jannahNya…bukan sebaliknya…alangkah buruknya jika anugerah yang kita miliki ini tidak dapat kita nikmati berkelanjutan sampai akhirat padahal kita telah mengetahui nikmatnya kehidupan ini.
Begitu indahnya hidup ini nimatnya makan, minum dan menghirup udara yang segar dll ..berkendaraan yang bagus… adalah suatu karomah dari Allah azza wajalla akan hidayah untuk mempertahankannya sampai seseorang masuk jannah-Nya yang berjuta kali hanya Allah saja yang Maha Mengetahui nikmatnya jannah….juga kesengsaraan yang begitu memilukan dan memedihkan tidak akan ada artinya dibanding dengan nerakanya Allah azza wajalla yang dahsyat….inilah hidayah ya akhi inilah nikmat yang hakiki dimana harga hidayah ini melebihi emas sebulat bumi “al ayat al imran: 91″ dan di hadits Muslim , dimana seseorang yg mati dalam keadaan kafir dan belum sempat mengucapkan sahadat akan rela menebus disinya dari api neraka pada saat dia dihadapkan oleh Allah azza wajalla untuk dimasukan ke neraka…… naudzubillahi mindzalik…..
Dari sini ya akhi … jika Allah tidak memberi apa-apa kepada kita kecuali seteguk air yg dari sungai dan segenggam rumput liar untuk dimakan… dari kita hidup sampai kita menghembuskan nafas terakhir jika kita mati dalam keadaan Allah ridho sungguh kita telah membawa keselamatan kita telah membawa emas sebesar bumi ini karena kita membawa tauhid dan akan selamat dari nerakanya Allah dan dimasukkan ke jannahnya. Inilah hakikat hidup yang mulia yang hanya hidayah taufiq dari Allah azza wajalla saja yang dapat membimbing kita akan kefahaman ini. Bukan dari kehebatan akal kita dan bukan pula dari kejeniusan kita. Hal ini adalah dari kasih sayang dan rahnat Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya. Semoga kita termasuk dari kalangan hambaNya yang selalu mendapat hidayah taufiq dan selalu mampu bertaubat dan selalu mampu manjalankan syairatNya dengan ikhlas karena mencari WajahNya saja dengan selalu beramal ibadah yang sesuai AlQuran dan assunnah dengan manhaj kefahaman para sahabat rodliallahu ahnhum sampai akhir dicabutnya nyawa ini mengahadap illaahi Robbiiyy aquulu qaulii hadzaa wa astaghfirullahi lii walakum doa kafarah majlis..
Mudah2 ada faidahnya sikahkan sebarkan jika ada yg memerlukan nasehat ini barakallahu fiik akhi….
Baca Selanjutnya...

Kamis, 27 Oktober 2011

Dauroh AnNashihah ke-4 Oktober 2011

Hadirillah Daurah Annashihah ke 4 yang akan dilaksanakan pada:
Hari sabtu-ahad, tanggal 29-30 Oktober 2011.
Pemateri : Al-Ustadz Abdurrahman dari Yayasan Ath-Thoifah al- Mansurah Balikpapan Kaltim. 
Tempat di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Pisangan Bontang Kaltim.
Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di pamflet berikut:
Baca Selanjutnya...

Sabtu, 24 September 2011

Tabligh Akbar ust. Zainal Abidin Bontang September 2011

HADIRILAH TABLIGH AKBAR UNTUK UMUM
Bersama Ust.Zaenal Abidin, Lc dari Jakarta


Agenda Kegiatan :
Jadwal Kegiatan Ust. Zainal Abidin Lc di Bontang, 16-18 September 2011

  • Jum'at, 16/9/11 Ba'da Maghrib : Tabligh Akbar "Membuka Kunci Rejeki" Masjid Al Furqon BTN PKT
  • Sabtu, 17/9/11 09.00-11.00 : "Hukum Meninggalkan Sholat" di Masjid Al Khoir Perumahan Bukit Sintuk
  • Sabtu, 17/9/11 14.00-15.30 : "Mendidik Anak dan Rahasia Menjadi Wanita Teladan" di Masjid Al Ittihad depan Rudal
  • Ahad, 18/9/2011 09.00-Dzuhur : "Ensiklopedi Penghujat Sunnah" di Masjid Abu Bakar Pisangan

-Kerjasama Majelis Ta'lim Indominco - An Nashihah-

Baca Selanjutnya...
 

Yayasan Ihyaussunnah Bontang Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template